Pengobatan Pada Penyakit Darah Tinggi

Pengobatan pada penyakit darah tinggi beerujuan mengurangi morbiditas dan mortalitas dan mengontrol tekanan darah. Dalam pengobatan hipertensi ada 2 cara yaitu pengobatan non-farmakologik (perubahan gaya hidup) dan pengobatan faramkologik.

Pengobatan pada penyakit darah tinggi dengan dua jenis pengobatan ini adalah :

Pengobatan Nonfaramakologik
Pengobatan pada penyakit darah tinggi ini dilakukan dengan :

  1. Pengurangan berat badan : penderita hipertensi yang obesitas dianjurkan untuk menurunkan berat badan, membatasi asupan kalori dan peningkatan pemakaian kalori dengan latihan fisik yang teratur.
  2. Mengehentikan rokok : merokok tidak berhubungan langsung dengan hipertensi tetapi merupakan faktor utama penyakiy kardiovaskular. Penderita penyakit hipertensi darah tinggi sebaiknya dianjurkan untuk berhenti merokok.
  3. Menghindari alkohol : alkohol dapat meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan resistensi terhadap obat anti hipertensi. Penderita yang minum alkohol sebaiknya membatasi asupan etanol sekitar satu ons sehari.
  4. Melakukan aktivitas fisik : penderita hipertensi tanpa komplikasi dapat meningkatkan aktivitas fisik secara aman. Penderita dengan penyakit jantung atau masalah kesehatan lain yang serius memerlukan pemeriksaan yang lebih lengkap misalnya dengan exercise test dan bila perlu mengikuti program rehabilitasi yang diawasi oleh dokter.
  5. Membatasi asupan garam : kurangi asupan garam sampai kurang dari 100 mmol perhari atau kurang dari 2,3 gra natrium atau kurang dari 6 gram NaCl. Penderita hipertensi dianjurkan juga untuk menjagga asupan kalsium dan magnesium.

Pengobatan pada penyakit darah tinggi khususnya farmakologik pada setiap penderita hipertensi memerlukan pertimbangan berbagai faktor sepertii beratnya hipertensi, kelainan organ dan faktor resiko lain. Hipertensi bisa diatasi dengan memodifikasi gaya hidup. Pengobatan dengan anti-hipertensi diberikan jika modifikasi gaya hidup tidak berhasil. Dokter pun memiliki alasan dalam memberikan obat mana yang sesuai dengan kondisi pasien saat menderita hipertensi.

Tujuan pengobatan pada penyakit darah tinggi secara farmakologik adalah untuk mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas akibat dari tekanan darah tinggi. Artinya tekanan darah harus diturunkan serendah mungkin yang tidak mengganggu fungsi ginjal, otak, jantung maupun kualitas hidup sambil dilakukan pengendalian faktor resiko kardiovaskular.

Posted in Sakit Darah Tinggi | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Gejala Sakit Darah Tinggi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi sebetulnya bukan suatu penyakit tetapi hanya merupakan suatu kelainan dengan gejala gangguan pada mekanisme regulasi tekanan darah yang timbul. Gejala sakit darah tinggi atau hipertensi ditandai dengan naiknya tekanan darah diatas 140 mmHg sistolik dan diatas 90 mmHg diastolik sebab menurut standar WHO, tekanan darah yang normal adalah 100-140 mmHg sistolik dan 60-90 mmHg diastolik. Penyebab penyakit belum terungkap dengan pasti, namun faktor-faktor resiko penyakit ini yang telah diidentifikasi oleh para ahli antara lain adalah faktor keturunan, umur, obesitas, alkohol, roko, kurang aktivitas, dan kelebihan konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh dan garam.

Naiknya tekanan darah berkiatan erat dengan emosi terutrama emosi yang negatif, misalnya cemas, takut, dan perasaan marah yang berlebihan. Meskipun emosi hanya muncul sebentar tetap akan menyebabkan energi terkuras. Energi yang hanya membuat orang tegang itu menyebabkan detak jantung menjadi lebih cepat dan tekanan darah meningkat. Meningkatnya tekanan darah pada gejala sakit darah tinggi ditandai dengan seperti pusing, muka merah, sakit kepala, tengkuk terasa pegal, dan tiba-tiba keluar darah dari hidung.

Gejala sakit darah tinggi yang tidak segera diatasi dapat mengakibatkan serangan jantung, ginjal, pendarahan pada selaput bening mata (retina), dan yang paling ditakutkan adalah terjadinya kelumpuhan yang disebabkan pecahnya pembuluh darah diotak (stroke). Stroke bisa bersifat sementara atau permanen berupa terganggunya kemampuan bicara, penglihatan, keseimbangan tubuh, dan perasaan. Serangan stroke bisa merupakan lanjutan dari hipertensi namun dapat juga merupakan gejala awal seranngan hipertensi.

Gejala sakit darah tinggi yang disebabkan oleh faktor genetik sebenarnya sudah ada sejak usia antara 20-30 tahun tetapi biasanya baru muncul pada usia 50 tahunan. Jika salah satu orangtua menderita tekanan darah tinggi atau pernah mendapatkan serangan stroke sebelum usia 70 tahun, kemungkinan terjadi serangan stroke pada anak adalah 1:3. Jika kedua orangtuanya menderita tekanan darah tinggi, resiko meningkat menjad 3:5. Namun, jika kedua orangtua mempunyai harapan hidup hingga usia 80 tahun, resikonya akan mengecil.

Posted in Sakit Darah Tinggi | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Sakit Darah Tinggi

Sakit darah tinggi atau hipertensi (hypertension) adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningkatkan tekanan darah diatas normal yang ditunjukkan oleh angka bagian atas (systolic) dan angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya.

Gambar : Akibat dari sakit darah tinggi

Nilai normal tekanan darah seseorang dengan ukuran tinggi badan, berat badan, tingkat aktivitas normal dan kesehatan secara umum adalah 120/80 mmHg bagi pria dan 110/70 mmHg untuk wanita. Dengan demikian, apabila seesorang tekanan darahnya di atas angka tersebut berarti mengalami hipertensi atau sakit darah tinggi.

Bila seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan tidak mendapatkan pengobatan dan pemeriksaan secara teratur (rutin), maka hal ini dapat membawa si penderita ke dalam kasus-kasus serius bahkan bisa menyebabkan kematian. Sakit darah tinggi yang terus-menerus menyebabkan jantung seseorang bekerja ekstra keras, akhirnya kondisi ini berakibat terjadinya keruskan pada pembuluh darah jantung, ginjal, otak dan mata.

Sakit darah tinggi dapat mempengaruhi komplikasi pada penyakit stroke dan serangan jantung mendadak yang kebanyakan kasus berakhir pada kematian yang tak terelakkan.

Sakit darah tinggi yang kebanyakan dialami oleh beberapa penderitanya disebabkan oleh tingkat stress dan beban yang terlalu berat, sehingga tubuh, otak tak mampu mengendalikan stress yang berkepanjangan.

Darah tinggi merupakan jenis penyakit yang cukup berbahaya dan harus selalu diwaspadai, darah tinggi yang lama atau terlambat ditangani akan berakibat fatal pada penderitanya.

Posted in Sakit Darah Tinggi | Tagged , , , , , | Leave a comment

Komplikasi Penyakit Darah Tinggi

Walaupun sebagian besar penderita tekanan darah tinggi telah mengetahui bahwa sewaktu-waktu bisa mengalami kelumpuhan bahkan kematian akibat sroke, tetapi hanya sedikit penderita yang sadar untuk selalu mengontrol tensi (tekanan darah), apalagi minum obat secara teratur.

Para penderita hipertensi sedang atau berat, dimana tanpa minum obat tensinya akan tetap tinggi, banyak yang bosan minum obat. Ada pula yang tidak sanggup lagi untuk terus menerus membeli obat penurun tekanan darah yang harganya mahal. Memang, ada obat yang harganya murah, Namun, selain menurunkan tekan darah obat tersebut juga menimbulkan berbagai macam penyakit baru atau memperberat penyakit yang sudah ada. Efek samping obat yang murah tersebut dapat memperberat rematik gout, meninggikan kadar lemak darah, dan sebagainya.

Komplikasi Darah Tinggi

Berbagai macam komplikasi dapat timbul akibat menderita tekanan darah tinggi dalam jangka waktu yang lama. Komplikasi dapat berupa terganggunya fungsi atau kerusakan berbagai organ tubuh. Hal ini disebut dengan istilah target hipertensi, yaitu kerusakan pada otak, jantung, ginjal dan mata karena penyakit hipertensi.

1. Kerusakan Pada Otak

Kerusakan ini terjadi akibat stroke karena jaringan otak kekurangan oksigen akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak. Akibatnya, timbul kelemahan atau kelumpuhan separuh badan dengan berbagai gangguan lainnya. Kerusakan parah bahkan dapat menyebabkan kematian.

2. Kerusakan Pada Jantung

Komplikasi tekanan darah tinggi dapat menyebabkan pembesaran otot jantung kiri yang berakhir dengan gagalnya jantung menjalankan fungsinya untuk memompa darah ke seluruh tubuh. keadaan ini ditandai dengan bengkak pada kaki dan kelopak mata, cepat lelah dan sesak nafas.

3. Kerusakan Pada Ginjal

Ginjal yang rusak amat berbahaya karena dapat menyebabkan pembesaran otot jantung kiri yang berakhir dengan gagalnya jantung menjalankan fungsinya untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Keadaan ini ditandai dengan bengkak pada kaki dan kelopak mata, cepat lelah, dan sesak nafas

4. Kerusakan Pada Mata

Organ penglihatan pun dapat terkena komplikasi penyakit hipertensi. Kerusakan pada mata dapat menyebabkan gangguan penglihatan sampai kebutaan.

Posted in Sakit Darah Tinggi | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Penyerta Darah Tinggi

Seperti penyakit kronis lainnya, pada hipertensi pun berbagai penyakit dapat menyertai dan timbul bersamaan sehingga dapat memperburuk kerusakan organ.

Penyakit penyerta perlu pengobatan tersendiri dan dapat terjadi bersamaan dengan hipertensi adalah :

1. Kencing Manis (Diabetes Mellitus)

Penyakit kencing manis merupakan gangguan pengolahan gula (glukosa) oleh tubuh karena kekurangan hormon insulin. Akibatnya, kadar glukosa di dalam darah meninggi karena tidak dapat memasuki sel-sel tubuh sehingga terbuang melalui kencing atau air seni. Air kencing yang rasanya manis ini disukai juga oleh semut, dan ini merupakan cara mendiagnosa penyakit kencing manis secara sederhana.

Penyakit ini perlu segera ditangani sehingga kadar gula darahnya terkontrol. Caranya dengan mengatur pola makan (diet), latihan fisik, dan bila perlu dengan obat-obatan. Jika penyakit ini tidak terkontrol maka kadar glukosa darah yang meninggi atau hiperglikemia lama kelamaan akan menimbulkan berbagai komplikasi.

Komplikasi dapat berupa :

a. Mudah terkena penyakit infeksi
b. Hilangnya kesadaran (koma diabetik)
c. Kerusakan pembuluh darah yang menimbulkan penyakit ginjal (nefropatik diabetik)
d. Kerusakan pada mata berupa hilangnya penglihatan
e. Berkurangnya aliran darah ke otot jantung, otak dan anggota gerak bagian bawah
f. Neuropati diabetika dengan gejala rasa baal, kesemutan dan sebagainya

Kesemua komplikasi ini tentunya memperberat kerusakan organ yang juga ditimbulkan oleh hipertensi.

2. Resistensi Insulin (R-I)

Pada penyakit ini insulin tersedia di dalam darah tetapi sel tubuh tidak dapat memanfaatkannya, sehingga glukosa darah tidak dapat masuk ke jaringan tubuh. Keadaan ini banyak terjadi pada orang yang gemuk (obesitas). Akibat resistensi insulin terjadilah pengeluaran insulin yang lebih banyak lagi dari pabriknya yaitu dari sel beta pankreas. Hal ini terjadi karena pabriknya mendapat pesanan untuk mengeluarkan banyak insulin dengan maksud memasukkan gula ke dalam sel tubuh. Kadar insulin yang berlebihan di dalam darah ini disebut hipersulinemia. Dengan mengukur kadar insulin darah dalam keadaan puasa, maka kadar yang melebihi 30 mU/ml atau lebih dari 20 mU/ml, menunjukkan adanya hiperinsulinemia.

Resistensi insulin-hiperinsulinemia ini akan menimbulkan penyakit kencing manis, gangguan kadar lemak darah (dislipidemia), atau hipertensi, tergantung pada gen yang dimiliki oleh penderita. Kesemua penyakit yang timbul ini akhirnya akan merusak lapisan dalam pembuluh darah (endotelium) dengan berbagai akibatnya.

3. Hiperfungsi Kelenjar Thyroid (Hiperthyroid)

Gangguan yang satu ini merupakan penyakit endokrin. Penyakit ini mengganggu metabolisme normal di dalam tubuh dan menyebabkan naiknya tekanan darah. Hiperthyroid perlu ditangani secara serius.

4. Rematik

Penyakit rematik adalah sekumpulan gejala yang penyebabnya beraneka ragam, umumnya berhubungan dengan sistem imunitas tubuh. Sebagian peyebab rematik belum diketahui sampai sekarang. Rematik bisa datang mendadak dan baru pertama kalinya (akut), dapat pula berupa sakit sendi berulang (kronis).

Ada lebih dari 100 jenis penyakit rematik, dari yang ringan sampai yang berat. Misalnya, Rheumatoid arthritis yang merupakan penyakit rematik paling ganas karena tidak hanya menyerang sendi namun juga menimbulkan cacat. Jenis rematik pun menyerang berbagai organ tubuh seperti ginjal, hati, paru, limfa, jantung, mata, kulit, otot, syaraf, pembuluh darah, dan sebagainya. Tentu saja akibat yang ditimbulkannya dapat memperberat kerusakan organ yang ditimbulkan oleh hipertensi.

5. Gout

Gout merupakan penyakit rematik yang dipengaruhi oleh makanan. Makanan yang mempengaruhi antara lain : hati, limfa, ginjal, jeroan, otak, sardine, jantung, kerang, kacang-kacangan seperti kacang tanah dan kedelai berikut olahannya seperti tahu, tempe dan susu kacang, serta sayur-sayuran seperti bayam, buncis, dan kembang kol. Sebaiknya makanan di atas tidak dikonsumsi karena banyak mengandung purine yang dapat menimbulkan gout.

Purine yang terdapat pada bahan makanan yang telah disebutkan diatas oleh tubuh akan dimetabolisir menjadi asam urat. Serangan rematik gout terjadi akibat konsentrasi asam urat di dalam darah meninggi yang disebut hiperuricemia. Kadar asam urat yang tinggi di dalam darah inilah yang menimbulkan penyakit. Apabila mengendap di cairan sendi mengakibatkan sendi membengkak, warnanya kemerahan, disertai rasa sakit yang hebat. Selain menyebabkan serangan rematik berulang, asam urat yang tinggi juga membentuk timbunan kristal urat di kulit ginjal. Akibatnya fungsi ginjal menurun dan ini akan memperberat kelainan yang disebabkan oleh hipertensi. Bila penderita gout juga mempunyai penyakit kencing manis maka kadar asam urat di dalam darah yang melebihi 6 mg/dl akan mempermudah terjadinya perlekatan trombosit pada pembuluh darah. Lubang pembuluh darah akan mengecil yang akhirnya menyebabkan penyakit kardiovaskuler aterosklerotik.

6. Kadar Lemak Darah Tinggi (Hiperlipidemia)

Kadar lemak darah yang tinggi akan menyebabkan berbagai penyakit. Satu diantaranya adalah pemimbunan lemak pada dinding pembuluh darah, termasuk pembuluh darah jantung yang akan menyebabkan penyakit jantung koroner. Hipertensi akan menjadi lebih berat bila kadar lemak darah meninggi.

Posted in Sakit Darah Tinggi | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Sakit Tekanan Darah Tinggi

Seseorang dikatakan menderita penyakit tekanan darah tinggi bila nilai tekanan darah sistoliknya diatas 140 mmHg dan diastoliknya di atas 90 mmHg.

Dalam istilah kedokteran penyakit tekanan darah tinggi ini disebut dengan nama hipertensi. Meskipun batasannya sudah jelas, nilai mutlak dari batasan hipertensi terus mengalami perubahan. Pengalaman klinis membuktikan bahwa tekanan darah normal yang dahulu ditetapkan agak tinggi ternyata masih mendapatkan resiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler).

The Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure, suatu badan peneliti hipertensi di USA menentukan batasan batasan yang berbeda. Pada laporannya di tahun 1993 lalu yang lebih dikenal dengan sebutan JNC-V, tekanan darah pada orang dewasa berumur di atas 18 tahun diklasifikasikan sebagai berikut :

Catatan :

a. Jika penderita mempunyai tekanan darah sistolik dan diastolik yang tidak termasuk dalam satu kriteria maka ia termasuk dalam kriteria yang lebih tinggi. Misalnya seseorang mempunyai tekanan darah 180/120 mmHg (dibaca sistolik 180 mmHg, diastolik 120 mmHg). Berdasarkan ketentuan ini orang tersebut tergolong penderita hipertensi derajat 4 atau sangat berat.

b. Apabila penderita memiliki kerusakan atau resiko hipertensi, maka resiko tersebut harus disebutkan. Misalnya hipertensi derajat 4 dengan kencing manis (Diabetes Mellitus)

Tekanan darah atau blood pressure adalah tenaga yang dikeluarkan oleh darah untuk dapat mengalir melalui pembuluh darah. Ukuran tekanan darah dinyatakan dengan mmHg. Hg merupakan singkatan dari Hydragyrum yakni air raksa yang berada pada tabung tensimeter yang biasa digunakan untuk mengukur tekanan darah. Jadi, ukuran mmHg berarti tenaga mm air raksa. Orang yang dikatakan mempunyai tekanan darah 120 mmHg berarti tenaga yang dikeluarkan oleh darahnya dapat mendorong air raksa di dalam tabung tensimeter setinggi 120 mm.

Di kalangan medis alat untuk mengukur tekanan darah disebut Sphygmomanometer. Kalangan awam menyebutnya tensimeter. Alat ini digunakan untuk mengukur tekanan darah pada pembuluh arteri perifer.

Dari seluruh penderita tekanan darah tinggi, ternyata sekitar 90-95% belum dapat diterangkan mekanisme terjadi penyakitnya secara tepat. Tidak diketahui pasti bagaimana mereka sampai terkena penyakit darah tinggi. Hal ini dinamakan sebagai hipertensi esensiel yang merupakan problem bagi penderitanya.

Hipertensi yang diketahui penyebabnya disebut hipertensi sekunder jumlahnya kurang dari 10% dari seluruh penderita. Hipertensi sekunder disebabkan antara lain oleh penyakit parenkhim ginjal, penyakit pembuluh darah ginjal, kelainan endokrin, koartatio aorta, akibat pemakaian obat dan lain sebagainya.

Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor yang berperan pada hipertensi esensiel. Biasanya bila salah satu atau bahkan kedua orang tuanya menderita hipertensi maka anak-anaknya dapat menderita hipertensi juga.

Gejala Hipertensi

Gejala umum yang ditimbulkan akibat menderita tekanan darah tinggi tidak sama pada setiap orang, bahkan kadang timbul tanpa gejala. Tidak jarang seseorang baru mengetahui menderita tekanan darah tinggi sewaktu diukur tekanan darahnya oleh dokter yang memeriksanya untuk skrening kesehatan atau karena keluhan penyakit lain.

Sering penderita terkejut sewaktu dinyatakan bahwa ia menderita hipertensi, sedangkan selama ini ia tidak pernah merasa sakit kepala atau sering marah. Marah sering diidentikkan dengan menderita penyakit darah tinggi. Sebenarnya hal itu tergantung dari emosi dan sifat seseorang.

Secara umum gejala yang dikeluhkan oleh penderita tekanan darah tinggi sebagai berikut :

1. Sakit kepala
2. Rasa pegal dan tidak nyaman pada tengkuk
3. Perasaan berputar seperti tujuh keliling serasa ingin jatuh
4. Berdebar atau detak jantung terasa cepat
5. Telinga berdenging

Posted in Sakit Darah Tinggi | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment